Inilah 5 Kisah Cinta Syahdu Orang Ciamis Sepanjang Aksi212

Inilah 5 Kisah Cinta Syahdu Orang Ciamis Sepanjang Aksi212

Ciamis Effect – Kisah cinta syahdu ini bermula ketika pihak Kepolisian melarang penggunaan bus bus untuk #AksiBelaIslam Jilid 3. Berbekal semangat dan ghirah terhadap agama Islam, ribuan orang Ciamis mulai yang muda hingga tua, berbondong bondong jalan kaki ke Jakarta. Ratusan kilometer jarak Jakarta Ciamis tak menyiutkan hati mereka. Hingga, kisah kekinian itu menjadi pengetuk relung relung hati masyarakat sekitar. Inilah lima kisah cinta syahdu Ciamis sepanjang Aksi212 yang layak di renungkan.

1. Getaran Cinta Bergema di Hati Alumni ITB 93

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..

Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool… Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak… ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu kalian jangan usil, jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak!, Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal..Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga,, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak…tiap kotak sumbangan aku isi..

Saya masih heran, apa sih salah seorang ahok? Dia sdh bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yang sudah dia buat bagi jakarta… Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada,, saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi… paling juga mau selfie2..

Sampai satu saat….

,sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal,, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an…. Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif…. Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis,…

Papasan berlalu, aku setel radio lain…ada berita,, rombongan peserta aksi jalan kaki dari ciamis dan kota2 lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mrk lalui… Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu… Aku tertegun…

Lama aku diam ,, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yg sesuai dengan pemikiranku, apa yg membuat mereka rela melakukan itu semua?? Apa kira2?.. aku makin sibuk berfikir…. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka2 ikhlas itu…. Apa mereka ada tujuan2 politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu…. Apakah orang2 dgn tujuan politik yang gerakkan mereka itu?.. aku hitung2, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi,, berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu… Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi krn nilainya sangatlah besar….

Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga… Terlihat di pinggir2 jalan anak2 sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue2 warung ke mereka, sepertinya itu dr uang jajan mereka yg tak seberapa…. Aku terdiam makin dalam… Ya Allah….kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini??? Kenapa hanya hal2jelek yang mau aku lihat tentang agamaku… Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku??

Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar…aku lihat sendal2 jepit lusuh banyak sekali berbaris…aku ambil wudhu…

Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer,, muka mereka lelah sekali, mereka duduk,, ada yg minum, ada yg rebahan, dan lebih banyak yg lagi baca Quran… Hmmm

Aku sholat sendiri,, tak lama punggungku dicolek dr belakang, tanda minta aku jd imam, aku cium aroma tubuh2 dan baju basah dari belakang…. Aku takbir sujud,, ada lagi yang mencolek,. Nahh….Kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa… hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam… Aku bangkit duduk,, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku…. Ya Allah… Aku tak pantas jadi imam mereka,. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka…. Bagiku agama hanya hal2 manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya , in style ..bla bla bla,… Walau ada hinaan ke agamaku aku harus ttp elegan, berfikiran terbuka… Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka?? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku??….

Hanya 3 rakaat aku imami mereka,, hatiku luluh ya Allah…. mataku merah nahan haru… Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu2 aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali… Ini bisa jadi dia anakku juga,. Apa yg telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini?? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh… dia demam sedikit aku panik… Aku nangis dalam hati…. di baju putihnya ada tulisan nama sekolah,. smp ciamis… Ratusan kilo dari sini…. kakinnya bengkak karena berjalan sejak dari rumah, dia cerita bapaknya tak bs ikut krn sakit dan hanya hidup dr membecak, bapaknya mau bawa becak ke jakarta bantu nanti kalau ada yg capek, tapi dia larang… Aku dipermalukan berulang2 di masjid ini… Aku sudah tak kuat ya Allah… Mereka bangkit, ambil tas2 dan kresek putih dr sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid,, rasa2nya melihat punggung2 putih itu hipang dr pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yg menuju syurga… Kali ini aku yg norak,, aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat,, air mataku keluar lagi…. kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..

Sudah jam 5an,, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini…miting dgn klien sptnya batal… aku mikir lagi soal ke islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yg telah ciptakan aku, yg memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini…. dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini??? Ada dimana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?…

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi,. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini… Ada satu kata,. Sederhana sekali tanpa bumbu2… Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada…

Aku mampir di minimarket,, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap… Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional…. Ini kebangganku yg pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali… Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yang lurus, yg lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati….

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara2ku yang sebenarnya,. Orang2 yang sangat ikhlas membela Mu… Besok, tak ada jarak mereka denganMu ya Allah… Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yg basah kuyup hari ini….tak ada penggargaan dr manusia yg kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku… Mohon Kau terima dengan sangat… Bismilahirahmanirahiim….

(1 Desember 2016 , Ditjeriteratakan oleh Joni A Koto, Arsitek, Urban planner.. alumni ITB 93)

2. Sendal Cinta dari Dosen Undip

Setiap melewati permukiman, ribuan santri Ciamis disambut dengan penuh cinta. Ada rasa bangga pada anak-anak muda yang menempuh ratusan Kilometer demi Kalam SuciNya, ada pula rasa haru berpadu air mata.

Salah satu fragmen cinta itu terkisah apik saat seorang dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) melihat kaki salah seorang santri berdarah.

Usai mengajar kelas pagi, saya turun ke Jatos. Dengan Isna, kami memilih sandal gunung dan sepatu nyaman pakai. Seluruh sandal dan sepatu ukuran 39-42 kami beli. Teteh penjaga toko menelpon pemilik toko, minta harga sangat murah dibanding harga yang tertulis di sandal gunung itu.

Gembolan besar itu dengan cukup sulit dibawa menggunakan motor ke arah Dangdeur.

Di sana berbaris masyarakat. Murid TK sampai SMK. Remaja sampai nenek kakek. Di depan mereka berbagai hal: baju, makanan, sepatu dsb.

Pekikan takbir terdengar sesekali. Juga yel yel. “Islam bersatu, tidak bisa dikalahkan!’

Kepala-kepala itu melongok, menunggu-nunggu kedatangan remaja santri Ciamis.

“Mereka hebat. Mereka luar biasa.” Demikian komen-komen yang terdengar.

Saya menggabungkan diri dengan teman yang lain.

Hampir sejam, satu persatu mujahid remaja itu mendekat. Sebagian bertopi lebar. Wajah mereka penuh senyum. Sebagian mereka, tangannya sudah penuh dengan barang-barang.

Masyarakat harus dipaksa mundur karena semua berebut ke tengah jalan, membawakan berbagai hal.

“Dikumpulkan saja dalam truk, Ibu-Ibu,” pinta koordinator. “Nanti akan dibagikan.”

Ada banyak yang menyeka airmata.

Sekejab saja sandal-sandal gunung dan sepatu itu habis.

Di depan saya masih lewat remaja-remaja santri.

Wartawan Antara yang berdiri tak jauh dari saya menjelaskan jumlah santri yang dia saksikan berkisar 1500 orang.

Ada yang bersandal jepit. Kakinya nampak bekas darah mengering.

“Nomor kakimu berapa, Nak?”

Dia mendongak. “43.”

Saya tersenyum. “Maaf ya, Bu Imun belum membeli nomor itu tadi. Bu Imun akan segera beli dan kirimkan ya. Insya Allah.”

Dengan Isna, kami kembali ke Jatinangor, mencari toko sepatu yang lain. Lagi seluruh sandal gunung dan sepatu nyaman ukuran 42-44 stok toko dihabiskan. Plus berlusin-lusin kaos kaki.

Kembali ke Cipacing.

Santri-santri sudah berkumpul di RM Sehati. Saya mendapat info dari Faris ada Gubernur Jabar di dalam. Banyak bus berjejer di luar rumah makan.

Saya menyerahkan gembolan pada Faris.

Saya sendiri tak lama di sana karena harus menjadi pembicara pada seminar nasional di kampus.

Sempat bertelponan dengan Kang Teddy Setiadi. Beliau juga di lapangan.

Sepanjang jalan tadi, banyak ditemui wajah yang sering bersama dalam aktivitas kepalestinaan dan lainnya.

Ah, saat hati itu berdetak karena hal yang sama….tidak janjian pun Allah pertemukan.

Semoga demikian juga hendaknya nanti pertemuan di surga. Amiin.

3. Sholat Jumat Paling Romantis dan Syahdu

Awalnya saya gak terlalu peduli dengan aksi bela Islam ini. Bukan berarti saya gak marah dengan orang yang melecehkan ayat Al-Quran. Karena pasti didalam hati kecil setiap muslim, akan marah.

Tapi, saya punya pandangan lain mengenainya, karena setiap orang menurut saya punya cara tersendiri berjuang di jalanNya. Entah itu seorang Ayah yang bekerja untuk menafkahi keluarga. Entah Ibu yang sedang mengandung. Atau anak yang sedang menuntut ilmu. Semuanya sedang berjuang di JalanNya.

Mengenai Ahok-pun, saya netral. Ditangan dia, banyak pembangunan di Jakarta. Kita ga bisa tutup mata kan. Tapi kalau disuruh milih dia, saya ga bisa.
1. KTP saya bukan KTP Jakarta.
2. Keyakinan saya.
Biarlah masalahnya tetap berada di ranah hukum.

Sampai…

Di kereta Depok – Salemba, saya tonton video para mujahidin dari Ciamis yang berjalan kaki ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, mereka disambut para warga yang ramai-ramai menawarkan bantuan, entah berupa makanan, minuman, sandal, atau pakaian. Beberapa diantaranya bahkan menangis.

Serasa ada yang nyentuh direlung hati. Hangat. Sekuat tenaga saya menahan diri supaya airmata ini gak keluar, karena sedang di kereta. Tapi susah… Terasa sedikit airmata di pelupuk mata. Sampai saya pura-pura mengantuk untuk memperlihatkan kalau ini airmata kantuk.

Saya yang bergelut setiap hari dengan logika, gak bisa ngerti.
Kok mau sih ?? Kok bisa sih mereka ?? Kenapa mau susah payah gitu ?? Buat apa jalan kaki Ciamis – Jakarta ?
Buat apa sih repot-repot nyediain makanan, minuman ??
Kenapa mau-maunya jalan dibawah hujan ??
Enggak. Logika saya belum sampe!!!

Sampai kemudian saya memutuskan buat ikut. Pengen ngerti!!

Jum’at pagi.
Saya berangkat naik kereta bareng rekan saya. Dari mulai stasiun Gondangdia, sudah mulai banyak terlihat orang orang menggelar sajadah. Turun di stasiun Juanda, akhirnya kita turun, dan disambut lautan manusia dengan pakaian serba putih.

Kita jalan menuju Monas untuk mengikuti shalat Jum’at. Hujan gerimis menyapa wajah kita lembut. Tapi hampir tak ada yang bergerak dari posisinya masing-masing. Semua tetap duduk tenang, seolah tak peduli dengan hujan. Sambil sesekali memekikan takbir.

Kita masuk ke area taman di Monas, dan hujan mulai turun sedikit deras. Para peserta tetap diam ditempat, tak bergeming. Ada bapak tua yang pakaiannya kotor karena tanah, tapi seolah tak peduli dan tetap duduk diam di tempat sembari mendengar khatib berkhutbah.

Hayya ‘alash shalaah
Hayya ‘alash falaah

Iqamah berkumandang. Semua berdiri rapi. Bersiap shalat Jum’at diantara hujan.

Shalat berlangsung khusyuk. Dibagian do’a Qunut, tangan-tangan menengadah, memohon rahmatNya. Hujan masih menerpa wajah. Suasana sejuk terasa.

Selesai shalat, peserta keluar dari Monas sambil bershalawat. Saya akhirnya mutusin buat masuk ke dalam area Monas. Beberapa orang sibuk mengatur, memastikan rumput di Monas ga diinjak. Beberapa sibuk membagikan minuman dan makanan. Beberapa orang sibuk menyeret plastik besar, dan mengumpulkan sampah. Rapih.

Ada juga pria yang menggunakan tongkat penyangga, berjalan kaki sambil bershalawat. Ada beberapa yang sambil menggandeng anak kecil.

Keluar Monas, beberapa penjual menggratiskan jualannya. Kembali, logika seperti menampar saya. Karena gak masuk akal.
Kenapa pak ? Bukannya itu adalah yang akan bapak nafkahkan ke anak istri ? Lalu akan bapak kasih makan apa ke anak istri ??
Gak. Gak masuk logika saya!!

Waktu saya istirahat di warung pinggir jalan buat makan, karena saya belum sempat makan, ada ibu-ibu masuk warung, dan memberi beberapa lembar ratusan ribu, buat ngebayar semua makanan yang kita makan. Bapak-bapak yang ada di depan saya pun tiba-tiba memanggil beberapa anak kecil yang keliatan lapar buat makan disitu. “Biar saya yang bayar.”, serunya.

Kenapa pak ? Kenapa bu ?? Kita gak kenal padahal.. Semuanya terasa tak masuk akal, gak masuk ke logika saya.

Sampai tengah malam, di stasiun Gambir. Saya duduk sendirian sambil menikmati donat dan secangkir coklat. Sembari membaca di timeline saya mengenai aksi 212 ini. Airmata yang sedari kemarin ditahan, akhirnya luluh. Kedua pipi saya basah.

Ada sesuatu yang menohok..
Saya salah…
Saya akhirnya tahu…

Para pejuang yang berjalan kaki dari Ciamis sampai Jakarta itu laksana roda penggerak bagi seluruh muslim di Indonesia.
Yang lain pun tak mau kalah, ikut berjuang demi sesuatu yang mereka cintai, mereka yakini.

Mereka nggak butuh alasan. Karena memang seharusnya seperti itu.
Cinta tak butuh alasan, pun tak butuh logika.

Hari itu, kita kembali seperti anak kecil. Yang mencintai tanpa tedeng aling-aling. Seperti anak kecil yang berlarian ketika hujan turun, kemudian tertawa bersama tak peduli pangkat jabatan.

Antara Ciamis, Jakarta, dan hujan diantaranya, kita saling berpelukan, karena kita saudara.

Terima kasih untuk semuanya.

Terima kasih untuk shalat Jum’at paling romantis dalam hidup saya….

4. Ketika Gema Takbir Menyambut Mujahid Ciamis

Di antara detik-detik mengharukan pada Aksi 212 terjadi saat rombongan santri Ciamis tiba di Monas. Mengetahui para pejuang jalan kaki itu datang, peserta aksi segera membukakan jalan sembari berdiri dan menyambut mereka.

Sejumlah santri tak kuasa menahan air mata. Dan sejumlah peserta aksi pun menyambut mereka dengan air mata pula; antara bangga, terharu dan entah rasa apa saja yang berkecamuk dalam diri mereka.


Yang pasti, inilah para pejuang Aksi 212 yang telah menginspirasi jutaan orang bahwa perjuangan Islam tak bisa dihentikan dengan menghalang-halangi. Inilah para pejuang Aksi 212 yang telah berjalan berhari-hari demi membela Al Quran. Inilah para pejuang yang sandal-sandalnya rusak dimakan aspal, namun insya Allah akan terdengar hingga ke surga.

5. Puluhan Hingga Ratusan Miliar di Sedekahkan di Jalan Allah

Jika Aksi212 dinyatakan melebihi aksi 411 kemarin, maka sungguh, ada beberapa hal didunia ini yang tidak bisa dihitung oleh manusia. Pertama, nikmat Allah swt yang dicurahkan kepada makhluk-Nya. Kedua, tetesan air hujan yang membasahi bumi. Ketiga, angka pasti peserta Shalat Jumat Paling Romantis 212.

Selain itu, juga banyak dagangan yang dibagi bagikan secara gratis. Entah berapa banyak kardus air mineral yang dibagikan, entah berapa banyak makanan yang di bagikan kepada rekan sesama. Jikalau ada yang mengatakan bahwa peserta aksi 212 berkisar di angka 5 hingga 7 juta manusia. Maka, selama hari Jumat bersejarah itu, bisa jadi ratusan miliar di sedekahkan di jalanNya. Masya Allah, semua itu berharap pada balasan Allah swt.aksi-212

Silahkan bagikan! Karena Aksi212 boleh dikatakan semua itu karena Ciamis Effect. 

2 Comments

  1. Choirul 07/12/2016
    • masdillah 08/12/2016

Leave a Reply