Dek, Maafin Aku yang Belum Bisa Memberimu Kepastian

Dek, ini merupakan salah satu tulisan wujud kegelisahanku selama ini, tentang rasa yang seharusnya terjaga dan terpelihara hingga waktunya nanti. Tentang penyatuan dua insan yang berbeda dunia, berbeda pola pikir dan berbeda dalam beberapa aspek. Tentang kita, dek.

Aku mengenalmu semenjak semester pertama kuliahmu… Kala itu, hanya senyuman yang menjadi identitas pembedamu. Bukan nama cantikmu yang kelak senantiasa terlantunkan didalam doa.

Teman-temanmu menyanjungmu, sudah begitu banyak lelaki yang mengakui keelokan parasmu. Begitu pula dengan teman-teman sepergaulanmu yang mengakui kebaikan hatimu.

Bahkan, boleh diakui memang, kamu adalah permata yang dicari. Sebaik-baik perhiasan dunia yang menjadi impian banyak ikhwan.

kupu-kupu
Sumber : http://mediakifhunnes.wordpress.com

Dan… Itu yang membuatku semakin resah…

Terus terang kala itu aku semakin terpesona dengan segala yang ada pada dirimu. Tetapi apa daya, sadar diriku selama ini, aku bukanlah siapa-siapa. Bukan pula keturunan ulama yang patut mempersunting orang berjilbab lebar sepertimu. Bukan pula keturunan bangsawan, apalagi teknokrat.

Jujur saja, aku begitu menanti perjumpaan-perjumpaan denganmu selama ini. Seringkali, mata ini begitu merindukan senyuman tulusmu.

Bahkan…

Ketika kita di pertemukan dalam satu agenda bersama, tak bisa dipungkiri, betapa senang dan gembiranya hati ini. Setidak-tidaknya masih di izin kan untuk mengenalmu lebih mendalam.

Agenda demi agenda bergulir, waktu semakin membuncah, entah mengapa yang ada hanyalah rasa rindu yang semakin menjadi. Semakin menembus dalamnya bumi, hingga ke lapisan paling bawah.

Doa Dalam Gerimisnya Hati

burung
https://khusnullutfi.wordpress.com

Entah berapa kali namamu tersebut dalam doa doa malamku, entah berapa kali namamu menjadi pembicaraan indah antara aku dengan Sang Pencipta. Merajuk, meminta-minta selayaknya anak kecil yang merengek akan es coklat.

Dalam gerimisnya kala itu, selintas doa tersirat terpanjatkan, semoga kelak aku diizinkan menjadi pendamping hidupmu. Menjadi imam bagi dirimu dan anak anak kita. Menjadi sahabat seumur hidupmu dalam perjalanan merengkuh cinta-Nya.

Tetapi…

 

Lari….. Lari dari Realita Hati

sebening-hati
https://muslim.or.id

Maafkan aku yang selama ini jarang memuji kebaikan hatimu dek, jarang sekali menyanjungmu, memberikanmu untaian bunga. Maafkan aku yang justru lari dari realita hati.

Maafkan aku yang pernah kabur dari apa yang hati ini alami, maafkan aku yang berjarak sekian waktu dan sekian lamanya. Maafkan aku yang merenggangkan intensitas selama ini.

Maafkan aku yang bersikap pengecut kepadamu, maafkan aku yang pernah mengutarakan rasa tetapi tak kunjung memberikan kepastian. Maafkan aku yang memaksa perasaan yang seharusnya belum waktunya di tanam.

 

Aku Bosan…

menunggumu
http://floressastra.com/

Hanya kalimat itu yang menjadi pembuka atas pelarianku dari realita hati selama ini. Berharap ada jarak yang tercipta, berharap ada jeda untuk menjernihkan pikiran-pikiranku selama ini.

Entah berapa kali aku mengatakan itu kepadamu, aku bosan! Bosan dengan keadaan yang tak kunjung datang, bosan dengan penantian waktu yang tepat. Waktu yang tepat untuk memintamu kepada walimu.

Sah saja dirimu menganggap jikalau aku membencimu dengan perkataan itu. Tetapi duhai adinda, sekalipun tidak pernah ada niatan membencimu.

Aku bosan dalam penantian yang tak kunjung datang. Aku teramat bosan dengan kepastian waktu itu datang. Aku teramat bosan dengan keadaaan yang bisa menjadi celah-celah hitam dalam hidup ini.

 

Penghias Tidur Lelapku

dream
http://faena.com

Pernah suatu ketika, aku mengimpikanmu lewat untaian mimpi. Tentang karya yang ketika aku membacanya pun teramat bahagia. Tentang tulisanmu yang terpublikasi di media massa ternama negeri ini.

Dengan senangnya aku berbagi cerita itu, berharap suatu kelak menjadi realita yang membanggakan. Membanggakan kedua orang tua yang telah berkorban banyak untukmu seorang.

Bahkan, lewat perantara mimpi itu… Akhirnya naskah tulisan itu mendapatkan reward yang boleh jadi kesekian kalinya untukmu. Media masssa walau hanya level dalam negeri kampus ternama di kota kecil Jawa. Turut bangga dek! Jujur saja demikian.

Traktir es krim ya! candaku. Entah mengapa, kamu mengiyakan dan beberapa waktu kemudian, engkau menepati lisan yang telah terucapkan. Dan hal itulah yang membuatku…

Semakin kagum…

 

Menata Hati

menata-hati
http://hdwallpapersrocks.com/

Perjumpaan denganmu memang memberikan banyak arti dan kenangan. Perjumpaan denganmu memang begitu merindukan. Tetapi, hal itu yang menjadikan benih-benih kegelapan di hati.

Entah berapa kali aku mengkhayalkanmu, menyebutmu dalam lisanku. Tetapi, satu hal yang kemudian engkau katakan tentang hati yang tak selayaknya ternodai sebelum sah menjadi pembuka cerita cinta itu.

Maafkan aku yang lari dalam kepastian, hanya ingin berusaha menjaga hati. Menata hati yang telah berserak, menyuci hati dari noda noda kemaksiatan.

Maafkan lisanku yang selama ini banyak terselip salah dan cela. Maafkan perbuatanku yang kurang mengenakkan di hatimu. Ku harap, engkau dapat memahami dek.

 

Tentang Kepastian yang Tertunda

kepastian-cinta
http://digitalhint.net/

Maafkan aku dek yang tak kunjung memberikan kepastian padamu, yang tak kunjung memberanikan diri didepan walimu. Maafkan aku yang tak kunjung memberikan tanggal kepastian itu.

Bukan maksud hatiku meragukan hasil dari sajak doa doa dalam sujud kala itu, bukan maksud hatiku ingin mengulur ulur waktu. Tidak, sedikitpun tidak.

Maafkan aku dek, maafkan aku yang menunda pembicaraan selepas itu. Maafkan aku yang memberikanmu waktu lebih untuk berbakti pada kedua orang tuamu. Sebelum akhirnya engkau membaktikan diri padaku kelak, jika Allah mengizinkan.

Maafkan aku dek, yang memberikanmu waktu guna merealisasikan tanggung jawabmu kepada orang tua. Maafkan aku yang tak berperan dalam proses skripsimu. Maafkan aku…

Jika memang engkau ditakdirkan untukku, maafkanlah semua kecerobohanku. Semoga kelak, aku dapat membalasnya dengan menjadi imam terbaik untukmu…

Aku hanya teringat pada pesan seseorang di malam hari kala itu, tentang kesabaran yang harus menjadi pembatas aku dan kamu.

 

Refleksi Hati

Magetan 31 Desember 2016

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kembali ke ATAS