Untukmu Dek, Yang Masih Sabar Menanti Aku Datang

Entah berapa lama engkau mulai menunggu dek! Entah berapa purnama telah berlalu, entah berapa tahun penantianmu yang tak kunjung membuahkan hasil. Namun, engkau masih setia menanti…

Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah namanya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya.

Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau tidak bertemu, berarti bukan jodoh. Sederhana sekali.

Entah mengapa quote bijaksana Tere Liye soal cinta diatas yang justru menjadi penguat ketika gundah ini menerpa. Tak jarang pula nyaris berputus asa dengan keadaan dan belenggu diri.

Entah berapa banyak masalah, aral rintangan dan cobaan yang silih berganti. Seolah kesemuanya mempertanyakan arti dari komitmen yang pernah aku utarakan kepadamu dek, yang juga pernah aku utarakan kepada walimu.

Menunggumu...

Satu Minggu Penantian

Mungkin saja penantian satu minggu belumlah terlalu membelenggu dirimu. Masih ada keyakinan yang ada dalam diri, masih ada harapan besar demi kepastian dariku. Mungkin saja, waktu satu minggu bukanlah waktu yang teramat lama.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya belenggu masalah yang menyapa diri, waktu satu minggu teramat cepat untukku. Dan teramat sangat lama untukmu dek, boleh jadi demikian.

Tetapi, apa daya, ikhtiar usaha sudah semaksimal mungkin. Keringat pun hingga mengering saking penatnya ikhtiar yang dilakukan. Tetapi, kepastian yang engkau nantikan tak kunjung datang.

Bulan Berganti

Entah mengapa, banyak hal yang harus dipastikan sebelum akhirnya diriku memberikan kepastian untukmu seorang. Masih ada beberapa urusan yang memang harus terselesaikan demi baiknya masa depan kita kelak.

Dari Januari engkau mulai menanti, hingga awal tahun ini. Masih saja belum ada kepastian yang terucap dari lidahku, masih saja aku berjibaku dengan keluh kesah belenggu masalah. Masih saja, … masih saja diriku mengecewakanmu.

Hingga tak terasa proposal skripsi yang pernah kita diskusikan kemarin, akhirnya telah engkau pertanggungjawabkan di hadapan dosen penguji. Waktu terasa begitu cepat bagiku, dan sangat melambat bagimu dek yang masih menunggu dalam kesabaran.

Maafkan Aku yang Lebih Mengutamakan Keluargaku Sebelum Dirimu

Boleh jadi timbul pertanyaan besar di hati dan pikiranmu dek. Tentang belenggu apa yang mencengkeram diriku. Tentang masalah apa yang tak kunjung selesai.

Maafkanlah aku yang memang sungkan cerita soal problematika yang tengah di hadapi. Bukan sok jagoan, ataupun sok punya kekuatan super. Melainkan, inilah caraku belajar bertanggung jawab terhadap masalah yang aku alami.

Sebelum nantinya, kelak, aku yang akan bertanggung jawab atas penghidupan dan kehidupan kita. Biarkanlah aku memperkuat bahu yang mungkin di masa mendatang akan kau sandari.

Sebagai lelaki, sebagai penyandang tulang punggung, tentu harus bertanggung jawab atas segalanya. Mulai dari ibuku yang mengalami kecelakaan tepat sehari selepas aku mengutarakan komitmen itu.

Bahkan Skripsiku Pun Belum Tertuntaskan

Hingga beberapa minggu kemudian, ketika dosen ingin segera aku kembali. Sedangkan hati ini masih gelisah, gelisah tentang gelar yang justru malahan menjadi sumber dosa, sumber dari segala sumber yang harus menjadi pengurang nilai nilai pahala.

Entah apa yang ada di pikiranku kala itu, bahkan ketika teman temanku menyarankan untuk menyudahi. Bahkan dosenpun sempat memarahiku sebenar benar amarah. Mereka ingin aku segera lulus, wisuda, cari kerja!

Tetapi, tak satupun yang mempertanyakan beban moral dari apa yang aku tulis. Jujur saja, aku tak mengerti benar perihal bab demi bab di dalam skripsiku itu. Jujur saja, aku takut. Teramat takut dengan omong kosong!

Haruskah aku menghidupimu dengan omong kosong yang tak bernilai apapun? Haruskah pula aku menjual demi sebiji nilai yang tak pula dibawa mati, apalagi dianggap menjadi satu satunya nilai kesuksesan di masa mendatang?

Masjidil Haram

https://cdn.ar.com

Tabungan Umrah sebagai Mahar Terbaikku Untukmu

Engkau mungkin belum tahu, engkau boleh jadi belum mengetahui mahar apa yang akan aku berikan untukmu seorang… Tetapi, inilah upaya terbaikku tuk mempersuntingmu. Dengan mahar terbaik, dan sebaik baik mahar adalah berpergian ke tanah suci.

Dan bukankah romantis, ketika selepas ijab qobul, beberapa hari kemudian, kita bersama-sama ke tanah suci. Berharap dan bersimbuh kepada pencipta kita, dan pencipta cinta kita. Adakah hal lain yang melebihi romantisme itu dek?

Duh dek, masih sanggupkah engkau memperpanjang sabarmu demi penantianku?